Teks Kritik dan Essai
TEKS KRITIK DAN ESSAI
Nama : Izzah Aisyah Rahma
Kelas : XII MIPA 9No Urut : 13
- Teks Kritik Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" Karya Chairil Anwar
Mengenang "Senja di Pelabuhan Kecil"
Senja di Pelabuhan KecilKarya Chairil Anwar Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Pada puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil” menceritakan tentang cinta yang sudah tidak dapat diperoleh lagi dan mengarah pada kehilangan dan kerinduan. Puisi ini juga menggambarkan perasaan seorang penyair yang gagal dan merasa sedih dalam percintaan yang dia alami, kemudian ia utarakan dalam bentuk puisi ini. Berdasarkan kehidupan nyata, manusia yang mengalami soal percintaan mungkin pernah mengalami kegagalan. Ketika manusia mengalami kegagalan tersebut, manusua akan kehilangan motivasi untuk menjalani kehidupan yang ia jalani dikarenakan tidak ada yang mendampingi. Kemudian Chairil Anwar menuliskan sebuah gedung, rumah tua, cerita tiang dan temali, kapal, dan perahu dalam puisi tersebut dimana benda-benda tersebut mengungkapkan perasaan sedih dan sepi .
Pada bait pertama “ini kali tidak ada yang mencari cinta” pengarang mencoba mengungkapkan perasaan hatinya yang merasa sedih ditinggalkan oleh seorang kekasih yang di cintainya. Pengarang dalam puisi ini merasakan kesendirian yang memilukan ia merasa sudah tidak ada cinta lagi. “diantara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali” gudang dan rumah tua menunjukkan tempat yang tidak lagi terurus dan tak berpenghuni dengan tiang dan temali yang berserakan. Benda-benda tersebut mengungkapkan perasaan sedih dan tak berguna lagi. Pengarang merasakan kehampaan hati karena cintanya yang hilang. Pada baris terakhir pengarang menggambarkan “kapal, perahu tiada belaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut”. Pengarang merasa hatinya sedang tidak bergejolak, seperti kapal dan perahu yang sedang tidak berlayar di lautan dan hanya menambatkan diri di tepi laut. Pengarang berusaha tegar dalam rasa sedihnya tersebut. Kata-kata yang digunakan pengarang juga seperti ingin menghibur diri dalam kesendirian tetapi ia tetap merasakan kesendirian tanpa aktivitas apapun dan selalu terbayang kenangan cinta yang telah hilang.
Pada bait ke-dua pengarang merasakan kesendirian yang setia bersamanya. Pada kalimat “gerimis mempercepat kelam” mengartikan bahwa keadaan yang sedang hujan rintik-rintik tersebut membuat suasana hati pengarang terasa lebih gelap dan suram. Duka hati pengarang karena sedih dan merasa sepi diibaratkan dapat mendengar kelepak elang yang membuat pengarang merasakan kepedihan dan keputusasaan. “desir hari lari berenang” hari pun dikatakan pengarang seakan berlari dan berenang menjauhi dia sehingga dia tidak bisa memutar balik wakttu itu. Keinginannya untuk bertemu dengan kekasihnya timbul tenggelam karena cintanya sudah bertepuk sebelah tangan dan keinginannya itu hanya akan menjadi harapan yang sia-sia. “kini tanah dan air tidur hilang ombak” Pengarang seperti mengungkapkan bahwa dirinya telah kehilangan sumber kebahagiaan seperti ombak yang datang membawa air ke pantai dan mengambil sebagian pasir pantai ke laut. Kehidupan seolah tidak bergerak karena penyair sedang kehilangan semangat hidup. Laut di senja hari merupakan tempat yang sesuai untuk melukiskan kehidupan yang sepi yang sedang dirasakan oleh pengarang.
Pada bait ke-tiga pengarang seolah-olah merasa putus asa dengan kesedihan yang dialaminya. Hal ini tercermin dari kata-kata pengarang yang masih belum juga menemukan semangat hidup “tiada lagi, aku sendiri”. Pengarang merasa hanya hidup seorang diri di dunia ini. Pantai yang sepi tanpa hiruk-pikuk manusia digunakan sebagai penggambaran hidupnya. Meskipun pengarang berusaha menghibur diri dengan kedamaian suasana pantai, akan tetapi ia tidak juga menemukan sesuatu yang bisa membangkitkan semangat hidupnya. Ia seperti baru saja kehilangan suatu harapan dan hal tersebut membuat pengarang tidak mempunyai harapan lagi dalam hidup ini. Semenanjung merupakan daratan yang menjorok ke laut. Ujung dari semenanjung bisa berarti jurang yang langsung berbatasan dengan laut. Kata selamat jalan seolah memberikan pengertian bahwa penyair ingin meninggalkan kehidupannya yang sepi dan tanpa harapan. Mungkin dengan begitu, segala kesedihan, kedukaan, dan kesepian yang ia rasakan akan hilang.
Puisi senja di pelabuhan kecil memiliki isi yang bagus, hal ini terlihat pada pemilihan diksi yang tepat,akan tetapi dalam puisi tersebut juga masih banyak dijumpai kata-kata yang sulit untuk dipahami sehingga membutuhkan kamus untuk mengartikannya dan juga membutuhkan pemahaman yang tinggi untuk mengetahui maksud atau makna dari puisi tersebut. Membutuhkan tingkat pengalaman dan penghayatan agar pembaca dapat mengetahui maksud tersirat dari puisi "Senja di Pelabuhan Kecil".
Kelas : XII MIPA 9
- Teks Kritik Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" Karya Chairil Anwar
Mengenang "Senja di Pelabuhan Kecil"
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Pada puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil” menceritakan tentang cinta yang sudah tidak dapat diperoleh lagi dan mengarah pada kehilangan dan kerinduan. Puisi ini juga menggambarkan perasaan seorang penyair yang gagal dan merasa sedih dalam percintaan yang dia alami, kemudian ia utarakan dalam bentuk puisi ini. Berdasarkan kehidupan nyata, manusia yang mengalami soal percintaan mungkin pernah mengalami kegagalan. Ketika manusia mengalami kegagalan tersebut, manusua akan kehilangan motivasi untuk menjalani kehidupan yang ia jalani dikarenakan tidak ada yang mendampingi. Kemudian Chairil Anwar menuliskan sebuah gedung, rumah tua, cerita tiang dan temali, kapal, dan perahu dalam puisi tersebut dimana benda-benda tersebut mengungkapkan perasaan sedih dan sepi .
Pada bait pertama “ini kali tidak ada yang mencari cinta” pengarang mencoba mengungkapkan perasaan hatinya yang merasa sedih ditinggalkan oleh seorang kekasih yang di cintainya. Pengarang dalam puisi ini merasakan kesendirian yang memilukan ia merasa sudah tidak ada cinta lagi. “diantara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali” gudang dan rumah tua menunjukkan tempat yang tidak lagi terurus dan tak berpenghuni dengan tiang dan temali yang berserakan. Benda-benda tersebut mengungkapkan perasaan sedih dan tak berguna lagi. Pengarang merasakan kehampaan hati karena cintanya yang hilang. Pada baris terakhir pengarang menggambarkan “kapal, perahu tiada belaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut”. Pengarang merasa hatinya sedang tidak bergejolak, seperti kapal dan perahu yang sedang tidak berlayar di lautan dan hanya menambatkan diri di tepi laut. Pengarang berusaha tegar dalam rasa sedihnya tersebut. Kata-kata yang digunakan pengarang juga seperti ingin menghibur diri dalam kesendirian tetapi ia tetap merasakan kesendirian tanpa aktivitas apapun dan selalu terbayang kenangan cinta yang telah hilang.
Pada bait ke-dua pengarang merasakan kesendirian yang setia bersamanya. Pada kalimat “gerimis mempercepat kelam” mengartikan bahwa keadaan yang sedang hujan rintik-rintik tersebut membuat suasana hati pengarang terasa lebih gelap dan suram. Duka hati pengarang karena sedih dan merasa sepi diibaratkan dapat mendengar kelepak elang yang membuat pengarang merasakan kepedihan dan keputusasaan. “desir hari lari berenang” hari pun dikatakan pengarang seakan berlari dan berenang menjauhi dia sehingga dia tidak bisa memutar balik wakttu itu. Keinginannya untuk bertemu dengan kekasihnya timbul tenggelam karena cintanya sudah bertepuk sebelah tangan dan keinginannya itu hanya akan menjadi harapan yang sia-sia. “kini tanah dan air tidur hilang ombak” Pengarang seperti mengungkapkan bahwa dirinya telah kehilangan sumber kebahagiaan seperti ombak yang datang membawa air ke pantai dan mengambil sebagian pasir pantai ke laut. Kehidupan seolah tidak bergerak karena penyair sedang kehilangan semangat hidup. Laut di senja hari merupakan tempat yang sesuai untuk melukiskan kehidupan yang sepi yang sedang dirasakan oleh pengarang.
Pada bait ke-tiga pengarang seolah-olah merasa putus asa dengan kesedihan yang dialaminya. Hal ini tercermin dari kata-kata pengarang yang masih belum juga menemukan semangat hidup “tiada lagi, aku sendiri”. Pengarang merasa hanya hidup seorang diri di dunia ini. Pantai yang sepi tanpa hiruk-pikuk manusia digunakan sebagai penggambaran hidupnya. Meskipun pengarang berusaha menghibur diri dengan kedamaian suasana pantai, akan tetapi ia tidak juga menemukan sesuatu yang bisa membangkitkan semangat hidupnya. Ia seperti baru saja kehilangan suatu harapan dan hal tersebut membuat pengarang tidak mempunyai harapan lagi dalam hidup ini. Semenanjung merupakan daratan yang menjorok ke laut. Ujung dari semenanjung bisa berarti jurang yang langsung berbatasan dengan laut. Kata selamat jalan seolah memberikan pengertian bahwa penyair ingin meninggalkan kehidupannya yang sepi dan tanpa harapan. Mungkin dengan begitu, segala kesedihan, kedukaan, dan kesepian yang ia rasakan akan hilang.
Puisi senja di pelabuhan kecil memiliki isi yang bagus, hal ini terlihat pada pemilihan diksi yang tepat,akan tetapi dalam puisi tersebut juga masih banyak dijumpai kata-kata yang sulit untuk dipahami sehingga membutuhkan kamus untuk mengartikannya dan juga membutuhkan pemahaman yang tinggi untuk mengetahui maksud atau makna dari puisi tersebut. Membutuhkan tingkat pengalaman dan penghayatan agar pembaca dapat mengetahui maksud tersirat dari puisi "Senja di Pelabuhan Kecil".
- Teks Essai "Kesenjangan Pendidikan pada Pembelajaran Jarak Jauh"
Kesenjangan Pendidikan pada Pembelajaran Jarak Jauh
Semua pelajar Indonesia mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan peralatan dan fasilitas memadai, yaitu satu smartphone atau laptop dan satu meja untuk satu anak. Saat diberlakukan pembelajaran jarak jauh ini terdapat beberapa kasus yang berkaitan dengan hal ini, misalnya seorang ayah yang putus asa mencuri smartphone agar anaknya bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh. Tiga siswa sekolah menengah atas ditangkap karena percobaan perampokan, mereka membutuhkan uang untuk membeli smartphone untuk keperluan pembelajaran dalam jaringan internet. Kedua kisah ini menjadi viral di Indonesia dan mengungkap fakta bahwa belajar dari rumah selama pandemi COVID-19 memperbesar ketimpangan pendidikan yang sudah ada di Indonesia.
Pemerintah Indonesia memperkenalkan kebijakan Belajar dari rumah pada pertengahan Maret 2020. Guru, siswa, dan orang tua kemudian menghadapi banyak tantangan dalam menjalankan kebijakan ini. Studi Social Monitoring and Early Response Unit (SMERU) yang melaporkan gambaran tiga bulan pertama pelaksanaan belajar dari rumah menunjukkan variasi pada praktik pembelajaran siswa Indonesia. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap variasi tersebut mulai dari akses ke fasilitas dan infrastruktur yang tidak merata, perbedaan dalam kemampuan melakukan pengajaran jarak jauh, jenis dan lokasi sekolah, serta lingkungan tempat tinggal siswa.
Pada sisi guru juga terdapat variasi dalam hal persepsi dan praktik pembelajaran. Banyak guru di sekolah negeri menganggap pemberlakuan kebijakan belajar dari rumah sebagai libur sekolah sehingga mereka tidak mengadakan pembelajaran selama “masa libur” tersebut. Namun, ada juga guru sekolah negeri yang berpendapat pembelajaran harus tetap berlangsung, meski pada praktiknya mereka hanya memberi banyak tugas kepada murid dan mereka berharap sekolah akan dibuka kembali dalam waktu dekat.
Sementara itu, guru sekolah swasta cenderung melihat belajar dari rumah sebagai kelanjutan pembelajaran normal di sekolah. Guru-guru ini mempersiapkan pembelajaran sebagaimana pembelajaran di sekolah. Di wilayah perkotaan, sejumlah sekolah swasta telah mengantisipasi dan mempersiapkan skenario pembelajaran jarak jauh sejak pemerintah mengkonfirmasi kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada Maret 2020.
Pembelajaran jarak jauh sangat bergantung pada jangkauan jaringan internet. Padahal, data menunjukkan jangkauan jaringan internet di tiap daerah berbeda-beda. Menurut Badan Pusat Statistik, pada 2018, lebih banyak desa di Pulau Jawa yang memperoleh sinyal internet kuat dibandingkan wilayah lain di Indonesia, diikuti Sumatra, Sulawesi, Bali, dan Kalimantan. Hanya 25 persen wilayah di Maluku dan Papua memiliki sinyal internet yang kuat.
Akses internet yang tidak merata serta minimnya jangkauan internet menyebabkan banyak guru tidak dapat mengajar dengan kemampuan terbaik mereka. Setiap hari, sekitar 30 persen guru di Pulau Jawa tidak mengajar. Proporsi ini lebih besar pada guru-guru di luar Pulau Jawa, yaitu setiap harinya ada sekitar 50 persen dari mereka yang tidak mengajar.
Umumnya, siswa dan para guru itu tidak memiliki smartphone atau akses internet. Guru-guru lalu mendatangi rumah-rumah siswa dan biasanya hanya memberikan tugas pelajaran (tanpa ada pengajaran sama sekali). Praktik ini banyak ditemui di sekolah negeri di wilayah perdesaan, khususnya di luar Pulau Jawa. Guru-guru di daerah ini sering tidak dapat menilai tugas siswanya atau memberi kesempatan untuk sesi tanya-jawab.
Pada saat pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial yang memaksa masyarakat untuk di rumah saja, orang tua memiliki peran penting dalam mendukung anak-anak mereka belajar. Tetapi, tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk memberikan dukungan ini. Orang tua dengan kondisi ekonomi rendah kesulitan mendukung anak-anak mereka belajar dari rumah karena keterbatasan fasilitas, seperti tidak mempunyai smartphone atau akses internet. Situasinya juga rumit bila dalam satu keluarga hanya terdapat satu smartphone, tetapi ada lebih dari satu anak yang harus mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Pada saat pembelajaran jarak jauh ini, siswa dengan performa akademis di atas rata-rata di kelasnya cenderung memiliki lingkungan rumah yang mendukung. Anak-anak ini tinggal di wilayah perkotaan dengan akses yang lebih baik ke fasilitas untuk pembelajaran jarak jauh. Orang tua mereka berpendidikan tinggi, aktif memandu mereka belajar dari rumah serta berkomunikasi dengan guru secara rutin.
Anak-anak dengan orang tua berpendidikan rendah, yang tinggal di wilayah perdesaan, cenderung menghabiskan waktu mereka dengan membantu orang tuanya untuk bekerja ataupun bermain ketimbang belajar. Orang tua mereka umumnya tidak mengerti tentang pendidikan anak, dan kecil kemungkinan mereka ikut mendukung pembelajaran anak karena tidak mengetahui caranya. Mereka juga tidak memiliki jadwal belajar yang jelas. Anak-anak dari keluarga ekonomi rendah juga tidak mampu membeli perangkat teknologi maupun paket data internet untuk bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh. Akibatnya, mereka ketinggalan banyak pelajaran.
Hal ini membuktikan bahwa anak dari keluarga ekonomi rendah menderita penurunan kemampuan yang lebih besar secara proporsional akibat penutupan sekolah pada masa pandemi COVID-19. Bagi anak-anak ini, dalam jangka panjang, kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pembelajaran pada periode itu akan memberikan dampak negatif yang sangat besar.
Satu kebijakan untuk semua daerah yang ditetapkan pemerintah gagal mengatasi masalah karena keadaan guru, murid, dan orang tua berbeda-beda. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perlu memikirkan intervensi khusus yang lebih baik untuk guru dan siswa di daerah dengan infrastruktur terbatas. Langkah ini perlu mencakup kunjungan guru ke rumah yang terjadwal atau menyelenggarakan lebih banyak pembelajaran di luar ruangan. Sekolah juga dapat menilai kebutuhan siswa dan orang tua untuk mendukung pembelajaran, seperti panduan yang lebih praktis bagi orang tua, pulsa telepon, dan pelatihan bagi guru untuk beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran yang baru.
Untuk mencegah kesenjangan pendidikan yang lebih besar, guru perlu mengetahui tingkat kemampuan siswa-siswanya selama periode pembelajaran jarak jauh hingga saat sekolah dibuka kembali. Dengan bantuan dinas pendidikan daerah setempat, sekolah dapat melakukan penilaian berkala untuk mengidentifikasi tingkat pembelajaran siswa.
Guru juga perlu menerapkan pendekatan pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kemendikbud dapat membuat panduan praktis bagi guru untuk menerapkan pendekatan ini, dan menyediakan dukungan atau platform bagi guru untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam melaksanakannya. Pemerintah juga perlu mengembangkan suatu sistem untuk memantau kinerja guru dan siswa pada masa pembelajaran jarak jauh.
Dalam jangka panjang, pemerintah harus mendorong pembangunan infrastruktur yang berkeadilan. Pemerintah juga perlu berinvestasi pada reformasi pendidikan guru, seperti mengembangkan kurikulum khusus untuk pembelajaran jarak jauh dan keadaan darurat pendidikan serta penguasaan teknologi untuk mengajar.
Komentar
Posting Komentar